Surakarta, 6 Juli 2025 – Program Studi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bersama Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang menjalin kolaborasi strategis dalam memperkenalkan dan mensosialisasikan gagasan Nusa-Gritecture. Inovasi ini merupakan pendekatan desain arsitektur yang memadukan konsep keberlanjutan, pemanfaatan lahan terbatas, serta integrasi teknologi pertanian modern untuk memperkuat ketahanan pangan di level internasional.
Kegiatan sosialisasi yang berlangsung secara daring via zoom dan luring pada tanggal 5-6 Juli 2025 di Tokyo ini melibatkan akademisi, praktisi arsitektur, mahasiswa, serta komunitas diaspora Muhammadiyah di Jepang. Gagasan Nusa-Gritecture diperkenalkan sebagai solusi alternatif bagi kawasan urban yang menghadapi keterbatasan lahan namun tetap membutuhkan kemandirian pangan.
Ketua Tim Penggagas, perwakilan dari Arsitektur UMS ibu Dr. Nur Rahmawati Syamsiyah, S.T., M.T., menyampaikan bahwa Nusa-Gritecture hadir sebagai respon atas tantangan global, khususnya isu perubahan iklim, urbanisasi, dan keterbatasan sumber daya alam. “Kami berharap inovasi ini tidak hanya menjadi wacana akademik, tetapi juga dapat diimplementasikan secara nyata, baik di Indonesia maupun di negara lain yang menghadapi persoalan serupa,” ujarnya.
Sementara itu, PCIM Jepang menegaskan bahwa kerja sama strategis dalam memperkenalkan dan mensosialisasikan gagasan Nusa-Gritecture ini merupakan langkah penting untuk menghadirkan kontribusi nyata komunitas akademik Indonesia di kancah internasional. “Dengan gagasan Nusa-Gritecture, kita tidak hanya bicara tentang arsitektur, tetapi juga tentang keberlangsungan hidup manusia melalui ketersediaan pangan,” ungkap salah satu pengurus PCIM Jepang, yang turut hadir dalam sosialisasi di Haneda Convention Center Tokyo tanggal 5-6 Juli 2025.
peluang implementasi nyata di beberapa kota di Jepang yang memiliki keterbatasan lahan pertanian. Dengan demikian, Nusa-Gritecture diharapkan dapat menjadi kontribusi arsitektur Indonesia bagi dunia dalam upaya mencapai ketahanan pangan global yang berkelanjutan.

Kegiatan sosialisasi yang berlangsung dalam 2 skema: kegiatan secara daring yang akan berlansung 2 bulan terbagi atas kegiatan sosialisasi dan kegiatan evaluasi, dan kegiatan luring yang berlangsung pada tanggal 5-6 Juli 2025 di Tokyo. Kegiatan ini akan melibatkan akademisi, praktisi arsitektur, mahasiswa, serta komunitas diaspora Muhammadiyah di Jepang. Gagasan Nusa-Gritecture diperkenalkan sebagai solusi alternatif bagi kawasan urban yang menghadapi keterbatasan lahan namun tetap membutuhkan kemandirian pangan.
